Halaman

Kamis, 20 Maret 2014

Pertumbuhan Penduduk, Masalah atau Anugerah ?

 Banyak yang beranggapan bahwa tingginya pertumbuhan penduduk dalam suatu negara akan menjadi masalah bagi negara itu sendiri. Asumsi seperti ini hanyalah trik dan pelemparan isu palsu yang dilancarkan oleh negara – negara maju terhadap negara berkembang, tujuannya agar negara berkembang terpuruk lalu jatuh miskin. Hal ini cukup beralasan, karena melimpahnya sumber daya manusia sebuah negara, akan berbuah anugerah yaitu hidup dan tumbuhnya perekonomian. Didalamnya ada yang bertindak sebagai produsen, konsumen dan pasar, saling berkesinambungan satu sama lain.  Dengan catatan pemerintah mampu mengelola masyarakatnya agar memiliki kompetensi untuk memanfaatkan sumber daya alam yang mereka miliki, sehingga tidak menjadi penonton di  rumah sendiri. 

Sejatinya pertumbuhan penduduk tidak dapat diklaim sebagai sebuah masalah suatu negara. Yang menjadi pokok permasalahannya kembali kepada negara itu sendiri. Berikut, empat masalah yang menjadikan isu pertumbuhan penduduk seakan – akan sebuah bencana bangsa :


1.       Negara tersebut terbelakang dalam sektor ekonomi dan pendidikan.
2.       Penyusutan sumber daya alam dan kerusakan alam.
3.       Penyebaran penduduk yang tidak merata.
4.       Rendahnya posisi dan status wanita.

                                                                                                                                             



 




Minggu, 16 Maret 2014

Yakinkah, Kampus Sebagai Pencetak Koruptor ?

Menurut Conny R. Semiawan (1998:33) perguruan tinggi  berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki perilaku, nilai dan norma sesuai sistem yang berlaku sehingga mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai tata cara hidup bangsa.

Pernyataan diatas justru berbanding terbalik, jika kita menengok fenomena kasus korupsi di Indonesia hingga saat ini, mayoritas para koruptor yang menjadi pasien KPK adalah kaum intelektual, berpredikat Profesor maupun Doktor.  Artinya, ada sesuatu yang salah dari perguruan tinggi dalam proses pembentukan hingga meluluskan para akademisinya. Maka, timbullah pertanyaan, yakinkah Universitas sebagai pencetak koruptor ?

Ada beberapa alasan  yang ditengarai menjadi faktor Universitas sebagai institusi pencetak koruptor.

Pertama,  budaya uang pelicin, dalam hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak Universitas yang menerima mahasiswa lewat jalur uang pelicin, tanpa pandang kualitas calon mahasiswa tersebut. Disini memang yang melakukan korupsi adalah calon mahasiswa baru , tapi secara langsung Universitas telah berperan dan menjadi fasilitator praktek menyogok tersebut, inilah benih awal koruptor yang kemudian akan tumbuh saat si mahasiswa terjun dalam dunia kerja,  jika upah yang ia dapatkan tidak sebanding dengan uang pelicin dan modal   yang di keluarkan selama berkuliah, maka timbulah hasrat untuk melakukan korupsi. Praktek ini mirip dengan para anggota lembaga legislatif yang korup, pada saat  berkampanye begitu jor-joran dana kampanye dan ber money politic, sehingga saat terpilih, orientasi etos kerja mereka hanya untuk kembali modal, hingga berujung pada tindakan korupsi.

Kedua, apabila Universitas menekankan biaya tinggi dalam pelaksanaan perkuliahan , namun tanpa disertai mutu pendidikan dalam arti yang sebenarnya, sangat mudah mendorong terhadap perilaku konsumstif dan hedonis.  Contoh perilaku ini misalnya, ditandai oleh persaingan duniawi, sehingga mendorong mahasiswa lebih bersikap menonjolkan materi daripada kualitas pribadi, dari situ akan melahirkan perbuatan ketidakjujuran juga berlebih - lebihan .

Ketiga,  ketika dosen mengajar mata kuliah, melenceng dari silabus dan metodologi pembelajarannya. Arah proses perkuliahan tidak sesuai dengan perjanjian awal, alhasil akan berdampak sistemik, mulai dari tumpang tindih dan menumpuknya tugas maupun ujian dengan mata kuliah lainnya, disini berpotensi menumbuhkan perilaku copy paste atau plagiat oleh mahasiswa, inilah salah satu kelakuan yang menjadi embrio korupsi.  Kemudian di dalamnya terjadi korupsi waktu, lantaran dosen akan mengurangi atau melebihkan jangka waktu kuliah untuk mengejar target silabus . Secara psikologi Mahasiswa akan terbiasa dengan situasi seperti ini dan bukan tidak mungkin mereka akan terinspirasi mengamalkannya kelak saat berprofesi .

Dari ketiga faktor tersebut, dapat kita tarik benang merahnya agar kampus tidak menjadi lembaga pendidikan penyetor  tikus- tikus berdasi tiap tahunnya dan mengembalikan hakikat dari tujuan Universitas itu sendiri. Karena dewasa ini universitas – universitas orientasinya hanya meningkatkan tingkat intelektual dan keterampilan saja. Belum sepenuhnya mampu menciptakan lulusan – lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional yang sama baiknya, begitu juga mereka yang memiliki etika dan moral yang kuat. 

Sebab dalam kasus – kasus korupsi , sesungguhnya para pelakunya tak hanya mengkorupsi uang, tetapi lebih dari itu ia telah melakukan korupsi moral. Mengapa ? karena ia telah melakukan destruksi dan kontaminasi atas keluhuran nilai – nilai moral dan hati nurani yang diwariskan yang luhur budi. Menurut H. Zainal Arifin Thoha, S.Ag, korupsi moral ini jauh berbahaya ketimbang korupsi uang. Kata orang uang masih bisa dicari, tetapi kemana lagi kita harus mencari nilai – nilai moral dan hati nurati ? .

Dalam rangka mendukung pencapian tujuan tersebut, maka diperlukan sebuah lingkungan kampus yang benar-benar kondusif, dimana nilai-nilai religi mewarnai seluruh aspek kehidupan kampus, tak sekedar nama dan tagline nya saja yang berlabel agama. Sehingga terciptanya iklim spritual di dalamnya, hal ini harus menjadi urusan seluruh civitas akademika, bukan hanya urusan pribadi masing - masing . Kemudian Stakeholder universitas selayaknya bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Keteladanan seorang dosen juga sangat diperlukan dalam menguatkan etika dan moral akademisi. Dosen tidak hanya memberi materi kuliah, namun menginspirasi dalam perangai dan pola hidup mereka .

CATATAN RUJUKAN :                                                                                              
H. Zainal Arifin Thoha, S.Ag (dkk) , Korupsi Dalam Perspektif Agama – Agama, LPPI UMY, Ykt .
*Tulisan saya yang ini juga bisa dibaca di Koran LPPM Nuansa UMY edisi Maret 2014 















Jumat, 14 Februari 2014

Celotehan Akar Rumput | Korupsi

Kali ini saya akan bercinta dengan keyboard, sedikit share obrolan saya dengan seorang bapak yang kira - kira usianya berkepala 4, warga desa setempat, di angkringan sudut gang kontrakan saya . Kala itu dini hari (13/2 2014), sekitar pukul 02.30 wib, saya kembali ke ritual zaman duduk di bangku sekolah menengah, yaitu nonton bola di angkringan MU vs Arsenal. Sebab tv dikontrakan mengidap  masuk angin, ia lengah saat air menyerang melalui atap yang bocor ketika hujan.

Saya memesan susu coklat dan makan beberapa pisang molen yang disediakan secara prasmanan di angkringan itu, sebenarnya saya tak lapar, ini hanya sekedar formalitas saja, agar bisa menyaksikan aksi Robin Van Persie menghadapi mantan klubnya . Nah, sembari memeloti laga MU vs Arsenal di tv angkringan  yang ukuranny tak lebih besar dari tv saya di kontrakan, hanya sebesar laptop pada umumnya. Saya ikut nimbrung dengan obrolan bapak di atas dengan seorang anak kost, di situ kita banyak berceloteh tentang fenomena korupsi bangsa Indonesia yang semakin menjadi - jadi .

Kita ngobrol ngalor ngidul, mulai dari hukum di negeri ini yang hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, dimana ketika orang tak punya, mencuri sendal bisa di hajar masa dan di penjara bertahun - tahun sedangkan kaum yang mencuri uang negara bermiliyar - miliyar jumlahnya, hukumannya begitu ringan. Kemudian mengenai realita korupsi yang telah menjalar ke seluruh lapisan elit pemerintah, dari lembaga hukum hingga yang sensitif yakni departemen agama .

Dalam obrolan ringan tersebut, ada salah satu opini yang saya garis bawahi dari ucapan bapak itu. Menurut beliau, hukum tentang korupsi di Indonesia terlalu banyak bermain analisa, beliau menawarkan sebuah opsi hukuman untuk seorang koruptor, yaitu lama dan masa hukumannya ditentukan dari jumlah uang yang dikorupsi. Ketentuannya , korupsi uang Rp 1000 di hukum 1 hari penjara, jadi misalnya ada yang mencuri semangka tetangga, tinggal kita uangkan saja berapa harga semangka tersebut, kemudian disesuaikan dengan ketentuan hukuman tadi. Sehingga jika ada stakeholder negara yang mengkorupsi sebanyak 5 miliyar rupiah atau lebih, tentu hukuman masa penjaranya bisa berpuluh - puluh tahun. Secara rasional dan akal sehat  akan mengiyakan hal ini, karena hukuman model ini terasa sangat adil.

Obrolan berlanjut  soal kandidat Capres RI 2014, bagi bapak itu sendiri, beliau hanya akan memilih calon Presiden yang berani memerangi dan membumi hanguskan korupsi, Capres yang dengan gagahnya mampu beretorika saat kampanye dengan mengatakan " sediakan 100 peti mati untuk para koruptor, lalu sisakan 1 peti untuk saya, jika nantinya saya korupsi satu rupiah pun" . Apabila tak ada calon orang nomor 1 negeri ini yang menyuarakan hal itu, saya akan golput " ujar bapak tersebut seraya menyeruput kopinya .

Sangat seru dan menarik berdialektika sebelum fajar menyingsing, dengan beliau yang tak sempat saya tanyakan namanya. Mendengar keresahan wong cilik akan negeri antah berantah nan  ambrudal ini, serta  dibagi beberapa uneg - uneg untuk bangsa ke depannya .

Sabtu, 15 Februari 2014






Jumat, 07 Februari 2014

Cerita Absurd Dunia Kampus ( Bagian 2 )

Namun semuanya berubah sejak negara Api menyerang, Kampus UMY yang awalnya belum tenar, kini telah menjelma menjadi Kampus yang di perhitungkan dalam dunia pendidikan Indonesia, hal itu karena kampus UMY telah berobat ke klinik tongseng *krik krik krik bunyi hujan diatas genting. Ditambah juga faktor predikat Akreditasi A yang dimiliki UMY belum lama ini, ia menjadi magnet penarik ribuan mahasiswa untuk mendaftar di UMY.

UMY juga bertengger di peringkat 4, Chart kampus terbaik se-Indonesia saat ini. Ini berdasarkan perhitungan quick count Lembaga Survey Indonesia #salahfokus . Ibaratnya kalau UMY ikut Liga Inggris, untuk posisi 4 akan lolos ke Liga Champions, tapi kudu lewat jalur evakuasi, *maaf, maksud kami babak kualifikasi.

Kalo ngomongin sistem pembelajaran, di UMY menggunakan sistem KBK (Kurikulum Berbasis Kontroversi), menurut  para tim pengajar, “sistem KBK ini adalah sistem pembelajaran modern “ . Bagi teman saya,  ini produk modern , tapi mengadopsi sistem penjajahan, sistem BELAJAR RODI (sepupunya KERJA RODI) #okeskip. Tugas dan Ujian selalu mengguyur tiap minggunya, begitu derasnya.

Itulah mengapa kampus ini menggunakan tagline “MUDA MENDUNIA”, mungkin jika ada mahasiswa yang tak kuat lagi untuk kuliah, bisa lambaikan tangan ke web cam, yeah “MUDA MENDUNIA LAIN”. Heuheuheu .....

( Nantikan cerita inspiratif lainnya, di episode selanjutnya )

Muhammad Fathi Djunaedy
Jumat, 7 Februari 2014





Selasa, 04 Februari 2014

Anti Mainstream Dalam Religiusitas


Secara umum pengertian anti mainstream adalah orang yang  selera dan perilakunya tidak mau sama atau berbeda dengan orang kebanyakan, contohnya saja dalam dunia musik, disaat para masyarakat menyukai boyband/girlband, orang-orang aliran anti-mainstream  lebih menggandrungi band indie.

Nah, kali ini yang dibahas adalah anti-mainstream dalam urusan keagamaan. Berangkat dari sebuah nasihat Orang tua saya ketika temu kangen dengan saya melalui telepon seluler, “ Nak, jangan pernah lupa untuk selalu mengerjakan shalat 5 waktu dan shalat sunnahnya pun tak boleh lalai, terutama shalat tahajud dan shalat dhuha ya nak “ . Disini yang mereka tekankan adalah shalat sunnahnya, karena bagi mereka menjalankan shalat sunnah adalah satu bentuk kita untuk mencari perhatian (caper) kepada Allah SWT, disamping berserah diri dan mengejar keutamannya shalat sunnah tersebut.  Sebab dalam hal ini shalat fardhu sudah bukan lagi sebuah kewajiban melainkan suatu kebutuhan kita yang mengaku umat Islam.  Allah SWT akan memandang lebih kepada orang yang giat shalat fardhu plus shalat sunnahnya juga, inilah yang menurut saya disebut anti-mainstream dalam religiusitas.

Jangan sampai kita salah kaprah, dengan ingin menjadi anti-mainstream, shalat sunnah kita semakin rajin sedangkan shalat 5 waktu sering bolos, atau lebih parahnya tidak mengamalkan keduanya, naudzubillah. Intinya disini bahwa insan yang anti-maintsream religinya adalah mereka yang mampu menunaikan ibadah wajib maupun sunnah dengan sama baiknya .

Kepada saudara – saudara dan terutama kepada pribadi saya sendiri, bahwasannya sudah terlampau biasa, jikalau kita hanya mencari perhatian (caper) kepada teman, gebetan, pacar, guru, dosen, orang tua dll, cobalah untuk selalu mencari perhatian Allah SWT, kalau kita ingin diperhitakan oleh-Nya. Karena bagi saya, Allah SWT adalah Maha pemberi perhatian , bisa dalam bentuk memberikan rezeki, kesehatan, umur panjang , ilmu, dan masih banyak lagi .

Akhir kata, sedikit klarifikasi bahwa disini saya tidak bermaksud untuk menggurui atau apapun, karena mungkin saudara lebih paham dari saya,  jika ada kesalahan tolong di luruskan. Begitupun dalam hal beribadah saya masih jauh dari kata sempurna.

Tujuan saya adalah bagaimana kita disini saling berbagi dan menasihati dalam kebaikan. Semoga bermanfaat,  syukron, billahi fi sabilililhaq fastabiqulkhairat . Wassalamualikum wr wb 

Jogjakarta, Ahad 12 Januari 2014
Muhammad Fathi Djunaedy

Minggu, 02 Februari 2014

Masih Layakkah Trans Jogja ?




Dioperasikan sejak tahun 2008, Bus Trans Jogja seakan menjadi primadona kendaraan umum di kota Jogjakarta . Pemerintah kota Jogja mengikuti langkah dari pemerintah kota Jakarta yang telah merilis Busway TransJakarta beberapa tahun sebelumnya. Tentunya Transjogja adalah sistem transportasi bus cepat , murah dan ber-AC, alternatif menghindari kemacetan dan solusi kenyamanan dalam perjalanan . Namun dalam perkembangannya dewasa ini, setelah 6 tahun Bus Transjogja beroperasi , saya melihat ada beberapa kecacatan fasilitas dalam pengoperasian TransJogja, misalnya ada beberapa pintu masuk penumpang armada Trans Jogja yang pada awalnya adalah pintu otomatis, kini banyak yang sudah mulai rusak berubah menjadi pintu manual, dampaknya  ada beberapa pintu yang dibiarkan terbuka, tak ubahnya Bis umum biasa atau Kopata.  Belum lagi, fasilitas didalam armada,  tampak banyak kursi penumpang yang sudah tidak layak pakai bahkan rusak parah .

Disamping beberapa hal-hal diatas, yang perlu dicermati dalam pengoperasian Trans Jogja adalah asap knalpot yang dikeluarkan bus Tran Jogja, hal ini karena asap tersebut cukup menyimpang sehingga meresahkan para pengendara lain di kota Jogja, bisa dikatakan ini salah satu biang polusi. Realita ini kembali mempertanyakan kapabilitas dari Bus Trans Jogja sendiri, apakah ia Transportasi eksekutif kota Jogja atau  hanyalah angkutan umum kelas ekonomi .

Untuk itu , saya menghimbau agar Pemerintah Jogjakarta lebih peduli dan tanggap menangani hal ini . Kalau bisa secepatnya membenahi fasilitas – fasilitas tersebut dan merubah Transjogja menjadi angkutan umum yang sehat. Karena TransJogja bukan hanya di tumpangi oleh masyarakat Jogja saja , para turis dan wisatawan luar kota pun menggunakan jasa Transjogja . Bagaimana jika mereka melihat fasilitas-fasilitas seperti ini, tentunya akan menjadi sebuah aib kecil, seperti yang kita tahu TransJogja adalah salah satu ikon kota Jogjakarta.

Selanjutnya, ada beberapa hal yang menurut saya dapat meningkatkan mutu pelayanan Bus TransJogja.

1) Pen
ambahan armada TransJogja, karena dinilai jumlahnya masih kurang , jika dibanding dengan kuantitas penumpangnya yang semakin tahun semakin bertambah, terlebih saat musim liburan tiba. Hal ini konsekuensi fungsi Transjogja sebagai  transportasi alternatif kota Jogja

2) Penambahan beberapa shelter lagi
pada beberapa titik di kota Jogjakarta.

3) Halte - halte TransJogja di perbesar lagi,
terutama dibeberapa tempat seperti Malioboro dan Ambarukmo Plaza, karena 2 shelter ini kapasitasnya terlalu kecil berbanding terbalik dengan penumpangnya yang terbilang banyak.

4) Di shelter diberikan sekat antara para penumpang yang akan masuk dan penumpang yang keluar dari
armada Bus TransJogja.

5) Pemberian fasilitas TV di shelter maupun di dalam trayek TransJogja,
agar para penumpang tidak merasa jenuh saat menunggu ataupun dalam perjalanan menggunakan jasa Transjogja.

6) Perbaikan  atap beberapa shelte
r, karena sering terjadi kebocoran saat hujan turun.

7) Desain shelter dan trayek TransJogja harus di
kreasikan lebih menarik lagi.   

 Maka dari itu , Pemkot Jogja dan pihak TransJogja harus ekstra berinovasi dan memberikan sesuatu yang berbeda. Lihat saja Busway Trans Jakarta memiliki jalur trayeknya sendiri, sementara di Kota Solo Batik Solo Trans(BST) mempunyai fasilitas sensor otomatis saat melewati lampu merah secara otomatis berganti menjadi lampu hijau. Jika Yogyakarta didaulat sebagai daerah istimewa , tentunya pelayanan dan fasilitas angkutan TransJogja juga harus istimewa.

Tulisan ini pernah di muat di Harian Tribun Jogja edisi 8 Maret 2012
Sedikit saya poles lagi :)

Puisi Sinabung

















Senandung kacau itu terdengar lagi
Iringkan erupsi menuju permukiman
Nestapa bagi bunda pertiwi
Awan kelabu itu seakan enggan beranjak

Bumi menumpahkan amarah
Urusan dunia menjadi majikan bangsalah akarnya
Negara ini mesti bertobat
Gemerlapkan menjadi bangsa yang bermartabat

Jogjakarta, 29/1 2014