Halaman

Jumat, 05 Juni 2015

Batu Bacan, Hari Kebangkitan Nasional dan KUKB


         Saat ini saya makin percaya bahwa batu akik bisa menguatkan hablum minannas warga Indonesia, disamping bola dan kopi. Beberapa bulan terakhir saya bersama saudara seperantauan turut meramaikan jagat batu akik Indonesia. Bertindak sebagai pedagang, kebetulan asal kami dari Maluku Utara, selalu saja ada kiriman dari keluarga di kampung berupa  batu bacan doko, bacan palamea, batu obi, dan giok halmahera, baik yang masih bongkahan maupun yang sudah digosok.

Sejak awal bulan Mei ini, para tetangga di sekitaran kontrakan, mulai mencium aroma-aroma dagangan kami. Alhasil, hampir tiap hari selalu saja ada yang berkunjung ke kontrakan sekedar menengok, memilah, menyenteri batu lalu deal untuk dibungkus. Hasil yang kami dapat juga lumayan lah, bisa ditabung untuk mudik bulan ramadhan esok. 

Sebenarnya berdagang ini tak melulu tentang profit ekonomi, tapi saya bisa berinteraksi dengan warga Soboman, duduk bareng saling tawar-menawar batu, sembari ngobrol ngalor ngidul, disini kita melepas jubah latar belakang kita, biasanya yang datang itu Mas Iwan bersaudara selaku  remaja masjid Soboman , Mas Agus personil band reggae Burger Time, dan Mas Suryo si owner bengkel motor.

 Malam  hari (Rabu, 20 Mei 2015), ada pelanggan baru yang mampir ke kontrakan, seorang pria bernama Pak Marta yang tampak seumuran dengan ayah saya,  beliau datang karena diajak oleh Mas Suryo, katanya sih pengen lihat-lihat dulu. Kawan saya, Tri Sofyan seorang juragan salak asal tanah ngapak pernah memberi petuah, “hey sahabat, dalam engkau berniaga, nikmati saja proses penawaran, insyallah hasilnya akan menawan” haha siap komandan. 

Saya menikmati dengan mengajak obrol si pelanggan baru ini, dari situ saya tahu kalau beliau adalah seorang dosen teknik industri di salah satu  kampus swasta Islam kota Jogja. Lalu kita saling bertukar kontak BBM, agar interaksi niaga ini lebih lancar. Saat beliau mengonfirmasi pertemanan BBM, beliau sempat melihat display picture profil saya, saat itu terpasang  gambar karikatur yang saya screen shoot dari akun instagram Om Iwan Fals tentang refleksi Hari Kebangkitan Nasional, yang bertuliskan “CINTA INDONESIA, saatnya bangsa ini menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Selamat Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2015.

Sontak beliau mengomentari gambar itu, “Begini mas, sampai kapan pun Indonesia ndak akan bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri, selama negara Belanda belum membayar hutang kehormatan kepada pemerintah Indonesia.

“Hutang kehormatan yang bagaimana ya pak ?”, timpal saya secara penasaran.

        “Saya ini salah satu simpatisan yayasan Komite Utang Berharga Belanda (KUKB), sebuah lembaga gagasan dari Pak Batara Hutagalung, yang bagi saya sangat mulia, karena memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia, meskipun geraknya tidak terlalu didukung oleh pemerintah Indonesia. KUKB sendiri ingin membuka fakta-fakta sejarah yang belum banyak masyarakat umum tahu. Salah satu faktanya ialah Belanda menyerang Indonesia yang notabenenya adalah negara berdaulat pada rentang waktu tahun 1945 hingga 1949 (Agresi Militer), karena secara de jure Belanda tidak mengakui kemerdekaan Republik Indonesia adalah tanggal 17 Agustus 1945, melainkan 27 Desember 1949, yaitu ketika penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Hingga kini pengakuan tersebut belum berubah. Apabila pemerintah Belanda mengakui de jure kemerdekaan RI 17.8.1945, maka sebagai konsekuensi logisnya, Indonesia dapat menuntut “pampasan perang” kepada Belanda, hasil dari perusakan dan pembantaian yang dilancarkan pihak Belanda di seluruh Indonesia dalam medio tersebut. Pampasan perang adalah pembayaran yang secara paksa ditarik oleh negeri pemenang perang kepada negeri yang kalah perang sebagai ganti atas kerugian material. Dalam konteks ini Indonesia adalah negara yang menang (merdeka). Bagi saya, jika Belanda membayar pampasan perangnya, maka Indonesia akan mampu membayar hutang-hutang negara kita, sebaliknya Belanda bisa saja jatuh miskin, karena jumlah hutang yang harus diganti rugi tak sedikit”, jelas Pak Marta dengan penuh semangat.

Lalu Pak Marta mengarahkan saya.

“Untuk keterangan yang lebih lengkap, Mas Fathi bisa ke mesin pencari google, ketik saja KUKB, ada banyak informasi yang bisa digali mengenai gerakan Pak Batara Hutagalung dkk ini”
        Tak lama berselang, obrolan kami berujung. Pak Marta pun pamit pulang dengan membawa bongkahan batu bacan incaran beliau.

Malam itu juga saya langsung berselancar di "samudera Google". Sejauh ini Yayasan KUKB sudah bolak-balik ke Belanda menuntut hal ini, salah satu hasilnya ialah permintaan maaf pemerintah Belanda kepada korban-korban pembantaian di kawasan Rawagede dan Westerling, serta pemberian kompensasi ganti rugi. Masih ada beberapa daerah lagi yang akan diusahakan selain dua daerah tersebut. Pastinya, langkah KUKB belum berhenti disini, selama dua petisinya belum terkabulkan, yakni pengakuan de jure Belanda akan kemerdekaan Indonesia dan permohonan maaf atas penjajahan, perbudakan, kejahatan perang, kejahatan atas kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat.

       Bagi saya, malam itu cukup berkesan karena mendapat khazanah baru tentang sejarah bangsa ini, berawal dari obrolan batu akik. Disini saya berada di pihak menolak lupa. Tetap semangat para pejuang KUKB, dan untuk Pemerintah Belanda, sudahlah hentikan omong kosong ini. Ada pepatah Jerman yang berbunyi “Lieber ein Ende mit Schrecken, als ein Schrecken ohne Ende”, yang terjemahan bebasnya adalah: “Lebih baik suatu akhir yang dramatis, daripada suatu drama tanpa akhir.” Nah lho.

Catatan kaki:



Rabu, 27 Mei 2015

Good Charlotte dengan Dance Floor Anthemnya.

Dapat barang hibah dari kakak. Muncul pada medio 2007, lebih sering diputar lewat "walkman". Tahun-tahun inilah akhir era keemasan walkman sebagai alat pemutar musik, karena digeser oleh Ipod, mp 3, dan mp 4. Saya mulai kenal Good Charlotte dari tembangnya I Just Wanna Live. Kalau menyoal album kaset ini, ada 13 trek yg semuanya punya punch kuat. Pribadi, saya nobatkan lagu Dance Floor Anthem sbg favorit. Alasannya karena lagunya tetap beraroma pop punk khas Good Charlotte dicampur dengan sentuhan up beat, menyesuaikan judul lagunya. 

 

Untuk maksud dari lagunya sendiri, kurang lebih begini: Ada seorang wanita yg mencintai pria, tapi malah di kasih harapan palsu tanpa alasan jelas. Akhirnya dia pergi clubing, mengekspresikan dengan luapan amarah dan ajakan kepada para penikmat malam " everybody put up your hands, say i dont wanna be in love". Baginya, hanya golongan merugi sajalah yang kukuh dalam relasi model begini. "No, no. Now you know what to do, so come on, get up", closing lirik yg ciamik

 

Oke kita lanjut, ternyata alasan yg disembunyikan itu karena si pria menaruh hati pada wanita lain. Namun, si wanita ini enggan membalas kasih pria itu, seakan ia mengetuk palu hukum karma. Untuk kelanjutan kisahnya, sila dengar dan tafsirkan sendiri. Intinya sih, meski ini lagu cinta tapi gak menye-menye, sangat khas sekali romansa pop punk. Bagi pecandu musik Indonesia, lagu-lagu seperti ini bisa dinikmati dalam senandung milik Pee Wee Gaskins dan Rocket Rockers.

Selasa, 30 Desember 2014

Indonesia Dalam Tawa

Bagaimana kabar kalian ?, para pecandu canda . Kalo kita ngomongin Indonesia, biasa membahas yang namanya nasionalisme. Saya ini orang Indonesia Timur, banyak yang bilang kalo kita ini tidak nasionalis. Yap tepat, karena kita makanan pokoknya sagu, kita ini “Saguonalisme” haha, hidup diversifikasi pangan, tolak sentralisasi !! 

Ada pula yang sering meledek kalo orang timur itu mukanya tua-tua, saya salah satu korbannya. Kalo saya sih selo aja menanggapi, ini hanya persoalan pembagian wilayah waktu saja antara WIT, WITA dan WIB. Jadi ya misal saya dan teman saya yang dari Jawa tanggal lahirnya sama. Tetap saja saya yang kakak, karena saya WIT, muka saya lebih tua 2 Jam. :D

Kadang pun saya merespon dengan sebuah petuah bijak yang bunyinya seperti ini, “Meski bermuka tua, asalkan tidak bermuka dua. Kan repot kalo bermuka dua, misal saat facial (perawatan wajah), diakhir saya bakal bayar  double.

Bagi saya, sosok nasionalis adalah para pahlawan di era penjajahan silam, mereka merebut kemerdekaan bangsa tidak semudah bak membalik kedua telapak tangan, pun tak se ajaib seperti sulapan “sim salabim, jadi apa semuanya ? prok..prok..prok. Eits salah, harusnya jadi apa .. PROKLAMASI, haha maaf sedikit memaksa.

Dari fakta diatas, sejarah mencatat bahwa orang pertama yang menemukan istilah “Prok” adalah Bung Karno bukan Pak Tarno. Asedap asek gesrek.

Cuap-cuap soal proklamasi, ada satu hal mengganjal pikiran saya, yaitu foto saat pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno. Menurut saya itu terlalu tegang dan formal sekali, fotonya pun hanya satu itu saja. Mungkin karena saat itu medio 45, penuh keterbatasan. Bayangkan saja jika masa itu sedang demam foto selfie, pastinya Soekarno membacakannya sambil selfie, pun dengan tomsis (tombak narsis) di tangannya, ini bermaksud untuk menyiasati bila ada penyusup Jepang datang, langsung ditombak terus diajak selfie. Heuheu.

69 tahun sudah Indonesia merdeka, sungguh angka yang menarik. Namun masih banyak sisi yang bagi saya belum sepenuhnya merdeka. Salah satunya sepakbola Indonesia. Itu terlihat dari fenomena transfer pemain Liga Indonesia. Kalo tengok di Eropa, tiap pemain saat konfrensi pers tentang kepindahannya ke klub baru, biasanya berujar klise seperti ini, “bergabung bersama Manchester United adalah impian masa kecil saya yang akhirnya terwujudkan”, ya pokoknya gitulah. Tapi kalau di Indonesia itu lain, omongannya seperti ini, “ Saya bangga bergabung bersama Persiwa Wates, karena dapat meningkatkan jiwa enterpreneur saya. Jika gaji saya telat dibayar, saya akan berjualan es oyen”. ;D

Indonesia dijuluki sebagai “Ibu Pertiwi”, karena keindahan alamnya, saya punya sebuah ungkapan untuk menggambarkannya, yakni “Surga di bawah telapak kaki Ibu Pertiwi”. Tapi kini Ibu pertiwi sudah berubah, yang katanya Indonesia itu tanah airku, sekarang apa saja semuanya serba berbayar. Saya kecewa lalu menggantinya dengan “Surga di bawah telapak kaki Ibu Kosan Pertiwi”. #TaraJelas (31 Desember 2014)

Sekian, salam ciamik asik.

Minggu, 21 Desember 2014

Kelas Melamun edisi Berbeda Itu Biasa | @ketjilbergerak





 (Jumat, 19 Desember 2014) Ketjilbergerak  sukses mengadakan kelas melamun, berlokasi di Plasa Ngasem Jogja, hasil kolaborasi dengan panitia even Delayota Art 2014 gaweannya anak-anak SMA 8 Jogja, jadi kelas melamun ini bagian  rangkaian acara dari even yang berlangsung tanggal 17 hingga 20 Desember 2014.


Mula-mula saya mau kenalin ke kalian yang belum tau apa itu ketjilbergerak dan kelas melamunnya. Menurut hasil stalk saya di situs mereka, ketjilbergerak adalah komunitas anak muda yang berkomitmen pada kerja-kerja budaya yang bersifat kolaboratif. Untuk maksud dari namanya, sangat sederhana saja, lebih baik kecil asal bergerak daripada besar tapi lumpuh.


Sedangkan kelas melamun, dari obrolan mini saya dengan seorang kru ketjilbergerak, baginya kelas melamun adalah alternatif di saat acara-acara seminar, workshop maupun diskusi terkesan membosankan. Kelas ini hampir mirip dengan talk show, kekuatannya ada pada konsep yang asik, pemilihan pembicara yang pas dengan anak muda, dan lokasinya yang santai. Itu sudah terlihat dari namanya saja, sangat nyentrik juga hipster bukan ?. Lalu kenapa harus kelas melamun ?, nah ini yang membuat banyak orang bertanya,  termasuk saya. Banyak yang beranggapan saat mengikuti kelas ini, kita bakal mendengar pembicara sambil melamun haha. Ya itu bisa saja terjadi, kalau memang saudara itu jomblowan durasi sewindu, yang memimpikan berpacar Raisa. Oke kembali ke jalan lurus, niat mulianya si ketjilbergerak sih biar beda trus orang pada kepo, lalu melamun kemudian terhalusinasi hingga akhirnya berada pada deretan peserta sidang kelas melamun yang dirahmati oleh Tuhan YME.


Perlu diketahui bahwa kata melamun sendiri memiliki banyak artian, yang sudah umum itu melamun (daydreaming), dimana seseorang diam termenung dalam khayalan visual.  Adapun yang dipakai oleh ketjilbergerak yakni melamun dalam artian menumpuk. So, kelas melamun adalah kelas untuk menumpuk pengetahuan, wawasan, pengalaman dan kawan baru. Kesan pertama kali mengikuti kelas ini, menurut saya ini cerminan kegiatan anak muda yang tak hanya menang di seremonialnya saja, pun esensi juga bisa didulang.


Kelas melamun kini sudah memasuki edisi ke 12, kali ini mengusung tema “Berbeda itu biasa”, acara dimulai pukul 4 sore, para peserta diberikan stiker ketjilbergerak dan Majalah Rolling Stone berkover Jogja Hip-Hop Foundation dan ini special collectors edition, saya pun merasa sebagai golongan kaum beruntung saat itu. Diisi oleh dua pembicara lintas generasi asal Jogja, Rama Sindhunata dan Marzuki “Kill the DJ” Mohamad, ditemani oleh MC kocak Alit-Alit Jabang Bayi. Rama Sindhunata mewakili kubu tua, beliau sendiri adalah mantan wartawan dan kolomnis harian Kompas, juga seorang penyair, namun lebih dikenal sebagai novelis, novelnya yang terkenal adalah "Anak Bajang Menggiring Angin" (1983, Gramedia). Saat ini beliau lebih intens sebagai Imam Katolik.


Sedangkan Juki “Kill the DJ”, saya pikir anak muda Jogja sudah banyak mengenalnya, karena ia salah satu pentolan band hip-hop, Jogja Hip-hop foundation.  Baik Rama Sindhu maupun Juki “Kill the DJ” keduanya telah saling kenal meskipun berbeda generasi, hubungan mereka bisa dikatakan sebuah persahabatan. Awalnya karena Zuki “Kill the DJ” saat belia sangat mengagumi Rama Sindhu sebagai kolomnis bola di Kompas, lalu mulai menyukai puisi-puisi karya beliau. Terang saja bukti hubungan mereka, terlihat saat beberapa puisi Rama Sindhu disulap menjadi tembang oleh Jogja Hip-Hop Foundation, contohnya Ora Cucul Ora Ngebul", "Rep Kedhep",  "Ngelmu Pring" (oleh Rotra) dan "Cintamu Sepahit Topi Miring" (oleh Jahanam).



 Berbicara tentang berbeda itu biasa, menurut Rama Sindhunata sebuah perbedaan itu akan lebur ketika berada dalam zona persahabatan, jadi tidak perlu lagi membahas bhineka maupun pluralisme. Ketika sudah terikat tali persahabatan, tak usah lagi menyatakan perbedaan. Aristoteles pernah berujar bahwa persahabatan ialah satu jiwa dalam 2 jasad. Beliau juga melihat fenomena perbedaan di Indonesia, yang beliau khawatirkan ialah politik bisa merubah perbedaan yang biasa menjadi tak biasa. Itu bisa dilihat ketika Pemilu 2014 lalu, yang disinggung kebanyakan masalah agama, lantas berpotensi memecah belah bangsa. Ini tampak lucu, sebab jika isu agama selalu dipersoalkan, tentunya Indoesia tidak akan merdeka pada 1945 silam, kalaupun merdeka pasti sudah hancur setelahnya.


Berbeda dengan Rama Sindhu, Juki “kill the DJ” lebih menyoroti perbedaan pada anak muda. Kaum muda dewasa ini memiliki hobi dan passion yang beragam, lalu dibentuk komunitas untuk mewadahi tiap-tiap kegemaran mereka, diantaranya ada Komunitas Puisi, Hip-hop, stand up comedy dan masih banyak lagi. Dalam realitanya para komunitas ini sering mengadakan even, pesertanya dari mereka, penontonnya juga, yang menikmati dan tepuk tangan pun mereka, ini ibarat onani massal. Seharusnya tiap komunitas yang berbeda tadi berkumpul dan mengadakan satu even bersama untuk mengekspresikan jiwa mudanya, karena bahasa ekspresi adalah jembatan pemersatu perbedaan. Dari situ juga, para komunitas akan lebih open mind, berjiwa besar, memperkaya lahir, batin dan jiwa.  Bagi Juki “kill the dj” juga, perbedaan itu untuk saling mengenal. Kini masyarakat terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sehingga minim waktu untuk bersosialisasi, namun sudah bejibun hadir media dan jejaring sosial untuk memudahkan komunikasi dalam memaknai perbedaan.


Selain membahas berbeda itu biasa, Juki juga sedikit menceritakan perjalanan awal terbentuknya Jogja Hip-hop foundation hingga mampu go international dan bisa survive sampai sekarang. Hal ini karena bangsa Indonesia sejak nenek moyang kita, memiliki semangat tidak menerima mentah-mentah apa yang muncul ke permukaan. Misal sekarang kita bagian dari masyarakat global, hip-hop itu produk global asalnya dari AS, walaupun begitu Jogja Hip-Hop Foundation mengisi hip-hop dengan akar kebudayaan Indonesia.


Sekitar 1 jam berlangsung,  wahana kelas melamun diguyur hujan deras, kebetulan saat itu hanya beratapkan tenda mantenan, alhasil dialognya di pending sementara waktu. Sebagai gantinya diisi hiburan dari  grup hip-hop TG Crew dari kampung Tegal Gendu, grup ini kumpulan anak-anak sepantaran personil Coboy Junior. Membawakan lagu cintamu sepahit topi miring milik JHF.



 Selang berapa lama, hujan pun mulai mereda, acara di lanjutkan pada sesi tanya jawab yang kemudian diakhiri dengan closing statement dari kedua pembicara. Rama Sindhunata berujar tetap jaga ikatan persahabatan agar mampu menghargai perbedaan dan jadilah manusia yang makin global lantas makin lokal. Dari Juki “kill the dj”, ia berasumsi bahwa ketika kita menyalahkan sesuatu, misal pasar mainstream musik Indonesia, tentu kita harus bertanggung jawab dengan memberi penetrasi dan alternatif yang lebih menarik. Sekian, tetap anggap berbeda itu biasa, dan sampai jumpa di kelas melamun part selanjutnya .


Senin, 10 November 2014

SELAMAT HARI PAHLAWAN 2014

Aku bukan pahlawan berparas tampan
Itulah potongan bait tembang
Dari trio supir truk asal Bali
Yang saya sebut cerminan pahlawan Indonesia hari ini

Ada pahlawan tanpa tanda jasa
Kini dunianya sering muncul asusila
Ada juga pahlawan devisa
Inilah pahlawan dengan tanda siksa

Ada pula pahlawan kesiangan
Mungkin ini bapak Presiden baru kita
Diciptakan oleh citra dan media

Kalau saya ini .
Pahlawan yang bangun kesiangan
Inilah akar kemunduran bangsa
Sebab rezeki negeri ini
Telah dipatok oleh ayam milik paman Sam

Bangsa besar ialah bangsa yg tak melupakan jasa para pahlawannya
Ini isyarat bahwa kita tak hanya harus mencintai produk dalam negeri
Pun cinta dan bangga akan pahlawan bangsa
Lebih besar dari mengidolai superhero mancanegara

Bung Karno berkata Jas Merah
Jangan sampai melupakan sejarah
Jas melambangkan kebijaksanaan
Merah berarti berani
Mari tatap arah masa depan bangsa
Dengan gagah, berani dan bijaksana

10 November 2014


Selasa, 28 Oktober 2014

(Bukan) Pemuda Harapan Palsu



Sejarah besar bangsa Indonesia tentu tidak terlepas dari kontribusi para pemuda negeri ini, tengok saja kembali ke 86 tahun lalu pada 27-28 Oktober 1928, terjadinya sebuah gerakan besar  yang di galakkan oleh para pemuda, baik dari Indonesia barat maupun timur untuk mengikrarkan pengakuan bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu,  yang  hingga kini tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah  Pemuda. 

Dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda dan  pentingnya nasionalisme juga demokrasi adalah output yang diharapkan bisa dituai dari gerakan ini. Terang saja, peristiwa ini seakaan menjadi tonggak awal peranan kaum muda dalam tinta sejarah bumi pertiwi, terlihat pada momen-momen besar macam kemerdekaan tahun 1945, medioorde lama 1966 dan saat pengkudetaan rezim Soeharto pada tahun 1998.

Sebegitu besar goresan perjuangan yang  ditorehkan para pemuda-pemuda sebelum kita, tentu sebesar itulah harapan kepada kaum muda sekarang. Hari sumpah pemuda seharusnya menjadi momentum untuk merajut dan menguatkan lagi persatuan untuk menjadi manusia Indonesia. Di saat akrobat zaman yang makin menjadi-jadi, tentu ini menjadi keuntungan jika kita mampu  mengolahnya dengan positif. Para pendahulu kita  dengan segala keterbatasan era mereka saja, bisa melakukan gerakan besar persatuan bangsa. Kaum muda kini dengan jamuan segala macam jenis gadget juga bejibunnya jejaring sosial didalamnya, sangat besar sekali mampu melanjutkan estafet gerakan tersebut. Dimana kita dimudahkan untuk terhubung dan berinteraksi dengan kaum muda di seluruh penjuru negeri, saling bertukar gagasan, membicarakan persoalan bangsa, mengkritik kebijakan pemerintah, dan hal positif progresif lainnya. Lain halnya jika digunakan semena-mena, seperti halnya fenomena si Florence di Jogja beberapa waktu lalu, telah melukai persatuan bangsa. Jadikan saja sebuah pelajaran pendewasaan kaum muda kemajuan era informatika.

       Sebagai  kaum muda yang  hidup di era yang begitu pesat munculnya kosakata dan istilah baru, yang menggurita lalu beranak- pinak menjejali pikiran, hingga tak tau arah jalan pulang. Di saat serangan membabi buta westernisasi, budaya K-Pop dan yang terbaru rombongan drama Mahabarata menyasar para anak muda, seakan menjadi kontestasi atau pertarungan budaya asing dan lokal. Disinilah jiwa nasionalisme kaum muda harus ditinggikan untuk menangkal fenomena tersebut. Banyak hal yang bisa dilakukan, yaitu mencintai budaya Indonesia dengan menjadi pelaku maupun penikmatnya. Perlu diketahui bahwa bangsa ini memiliki banyak sekali kebudayaan, inilah macamnya, rumah adat, tarian, lagu, musik, seni gambar, seni patung, pakaian adat, seni suara, seni sastra, makanan dan film. 

       Di samping itu juga harus mencintai produk-produk dalam negeri, terlebih pada tahun 2015 dengan adanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), harus memacu semangat kaum muda untuk menjadi produsen maupun konsumen dalam negeri yang berkualitas, salah satunya dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya Indonesia. Sejak dini kita siapkan intelektualitas, moralitas, soft skill dan religiusitas agar tak tergerus zaman, jangan hanya di nina bobokan oleh zat aditif media sosial yang sifatnya semu. Karena pada hakikatnya kitalah kaum muda pelangsung dan penyempurna arah gerak bangsa, bukan pemuda/pemudi harapan palsu, yang hanya menjadi pemberi harapan palsu.

28 Oktober 2014

Jumat, 10 Oktober 2014

Sajak Indonesia Hari Ini


Telah muncul si kurus
Yang katanya Sang Satria Piningit
Serangan prematur menerjang tajam
Menguliti secara telak
Pra disahkan si kurus ini
Drama gonjang-ganjing dua haluan
Layaknya taman kanak-kanak

Alam pun tak ketinggalan memberi tugas rumah
Dimana  tingkat ekspor bangsa kita meningkat
Ya, mengekspor asap ke negeri jiran

Ah, kurang ajar memang !
Lagil-lagi langkah berkedok pertumbuhan ekonomi
Mereka pikir tanah warisan pribadinya
Tentu tuk seluruh generasi cucu-cucu ibu pertiwi

Pangeran silam begitu licik
Mengerdilkan para wong cilik
Membunuh curahan-curahan irigasi
Mengalih fungsi lahan
Menawan dan tewaskan perlahan

Berkisah lanjut masih tentang lahan
Ya, kehidupan di lahan hijau bola kaki
Timnas menjadi komoditas
Budak segala macam media

Jogjakarta, 10 Oktober 2014