Halaman

Jumat, 23 Mei 2014

Politik

 penuh dengan intrik 

kadang secara baik

kadang pula licik nan picik

kampanyenya pun ada yang mendidik

ada juga yang dangdutan goyang itik

Kamis, 17 April 2014

Nona Anarki

Arlen Siu

 Pagi tampak kirana

Kala awal saya dan nona bersua

Nona ini sungguh beda

Dibanding kaum hawa di luar sana

Saya tahu kita dalam haluan yang sama

Ingin rasanya saya ajak bertamasya

Menempa revolusi di padang sabana

Kita bercinta dengan pena dan tinta

Menari bersama kuas perasa

Terbakar dalam simfoni propaganda

Rabu, 09 April 2014

Kelakar | Pemilu 2014

"Jangan terlalu serius untuk serius  – Ramon Papana "

Berbicara mengenai musim Pemilu 2014 ini, salah satu hil yang mustahal ialah, nantinya pada Pemilu Presiden Juni  besok tinggal mengerucut ke 2 kandidat saja yang bertarung , yakni Capres Aburizal Bakrie bersama Cawapresnya Marcela Zalianty versus WIN – HT  calon dari kubu Partai HANURA.

Saya sempat membayangkan jika kemungkinan buruk ini terjadi, tentu ada yang namanya Acara DEBAT KANDIDAT CAPRES, lalu pada acara ini terdapat seorang Juri yakni Jono GBS ( Juri Stand Up Comedy Kompas TV).  Nah, mungkin seperti ini komentar sang juri akan performance kedua kandidat :

# To WIN – HT : “Konten orasi politik bapak cukup menarik, cuman penyampaiannya kurang di GASPOL ..”

#To ARB : ”Luar biasa pemaparan visi–misinya Pak, saya kasih LUMPUR LAPINDO bro .. heuheuheu”

Anekdot diatas hanya sebatas intermezo saja dari saya, karena realitanya suara yang diraup Partai HANURA pada Pileg 9 April ini cukup mengenaskan, kemungkinan besar sulit untuk mengusung WIN – HT maju sebagai Capres. Makanya usai melihat quick count Kompas, Pak Wiranto langsung ngetweet gini : " dalam kompetisi kalah menang itu lumrah terjadi " #HANURAPOPO :))

Kalau saya melihat melalui kacamata sepakbola, pasangan WIN – HT dan Hanura kalah pada Pileg ini karena faktor inisialnya yakni WIN – HT. Win artinya menang sedangkan HT klo dalam sepakbola kepanjangannya Half Time, jadi mereka hanya menang di babak pertama saja yaitu menang saat kampanye. Tengok saja bagaimana Harry Tanoe (HT) memainkan Stasiun TV nya yang bernaung di bawah MNC Group (RCTI, MNC TV, Global TV) untuk berkampanye.

Khusus untuk pasangan WIN – HT, saya kurang respek dengannya disamping kelakuan mempolitisasi stasiun TV miliknya, juga karena semenjak Harry Tanoe terjun politik, ia melepas hak siar Liga Inggris ke SCTV dan Indosiar, alhasil saya pun menjadi anak muda mainstream, iya main streamingan heuheuheu

Kita skip dari kandidat abal – abal diatas, saya akan sedikit membahas masalah kampanye saat Pemilu. Aku kira kawan- kawan paham, ketika kampanye para calon wakil melakukan pencitraan atau membangun citra mereka. Namun, saat kampanye bagi saya mereka tidak akan mengundang Citra Skolastika karena ketika ia bersenandung, ujung –ujungnya akan mengejek sang calon wakil rakyat . Nih “ everybody know you are liar ( semua orang tahu kamu seorang pembohong ) hahaha, lagu ini judulnya “ Rahasia Umum “ 

Masalah kampanye juga, terutama kampanye berisik yang hampir selalu berlangsung tiap hari pada masa kampanye ternyata berbanding lurus dengan jumlah pasien THT di rumah sakit, heuheu .

SEKIAN
Rabu, 9 April 2014

Minggu, 06 April 2014

Ironi Kampanye Anarki

Alhamdulillah, hari ini sudah memasuki hari tenang kampanye menuju Pileg 9 April besok. Tulisan ini pun hadir begitu leluasa tanpa ada gangguan lengkingan suara knalpot para simpatisan partai yang tak berpendidikan di kota pendidikan ini.

“ Pemilihan umum telah memanggil kita, kita semua menyambut gembira. Kita ? Lu aja kali “. Itulah salah  satu bit stand up dari Dodit Mulyanto, kontestan SUCI 4 Kompas TV. Bit tersebut begitu menyentil karena pada realitanya tidak semua rakyat Indonesia yang riang gembira menyambut Pemilu ini. Tentu saja jika kita menengok proses kampanye selama beberapa hari ini. Kampanye konvoi kendaraan  yang seharusnya mampu menarik simpati dari para pemilih malah menimbulkan antipati. Lengkingan keras kendaraan para simpatisan partai kala kampanye pun sejalan dengan banyaknya kecaman para masyarakat baik lewat ucapan maupun media sosial.

Kampanye konvoi seperti ini bukan hanya berpotensi merusak pendengaran, disamping itu juga sering mengakibatkan kemacetan ketika melewati pusat kota Jogjakarta dan mengacaukan alur perjalanan saat melewati traffic light (bangjo) . Para simpatisan ini pun tak menggunakan helm dan mayoritas berboncengan tiga orang diatas satu motor (cabe-cabean), hal ini kan sudah melanggar lalu lintas. Lalu dimanakah para polisi satlantas ? , apakah harus ada dulu, jatuhnya korban kecelakaan hingga tewas seperti beberapa hari kemarin saat kampanye Partai kubu merah nasionalis, untuk menggerakan para pak polisi.

Puncaknya, hari sabtu kemarin (5/4 2014) di akhir rangkaian kampanye terbuka Pileg, terjadi aksi saling serang antar dua massa kampanye antara PDIP yang diserang oleh PPP di daerah perempatan Ngabean,  karena kubu simpatisan PDIP sudah lari tunggang langgang, yang menjadi korban salah sasar amuk massa PPP malah seorang pengantar bakpia .

Sungguh memalukan insiden diatas, seharusnya pesta demokrasi seperti ini dinikmati dengan suka cita bukannya di kaluti dengan berduka cita. Dalam konteks ini saya menuding para caleglah sumber dari kampanye model barbar ini, karena tak adanya pendidikan politik yang memadai dari mereka untuk para simpatisan. Tidak diajarkannya kedewasaan dalam berdemokrasi, berkampanye yang fair dan tidak meresahkan itu seperti apa. Alhasil, dari sini banyak kalangan yang berasumsi bahwa “ekor mencerminkan kepala” begitu juga “bagaimana mau mengurus negara jika mengurus simpatisannya saja tak becus” . Sebab para caleg dalam kasus ini hanyalah kaum karbitan yang tak berintelektual, mereka hanya mengandalkan kekuatan uang untuk kemenangan mereka. Akan tetapi, masyarakat saat ini makin cerdas dalam memilih wakil rakyat yang pantas dan tak pantas untuk dipilih, bisa disimpulkan dari kampanye sebuah partai peserta pemilu .

Padahal, banyak sekali alternatif cara berkampanye yang santun dan kreatif untuk menarik dukungan masyarakat. Ada yang menggunakan jasa SPG (sales promotoin girl) untuk marketing politiknya, lewat pengajian, atau membuka dialog dengan mahasiswa. Untuk cara yang terakhir, hanya segelintir caleg yang berani melakukannya, seperti yang saya ungkap tadi bahwa mindset karbitan mereka seperti ini “ buat apa saya harus ngomong sampe berbusa – busa di depan mahasiswa, jika dengan memberi uang kepada warga saja, saya sudah bisa menang “.

Akhirul kalam, harapan saya tentunya penanaman pendidikan poltik sejak usia dini dan kepada seluruh lapisan masyarakat, tak hanya ketika musim pemilu saja. Untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet baru nantinya, saya tekankan untuk membuat dan memasukan pendidikan politik kedalam kurikulum SD, SMP, SMA juga Universitas. Regulasi dan sanksi yang tegas juga sangat dibutuhkan saat musim pemilu dari Bawaslu juga Kepolisian terhadap tukang kampanye anarki. Jika hal ini terwujud, harmoni demokrasi tentu akan selalu berlaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita semua kawan :)

                                                                                                                                        Ahad 6/4 2014

Minggu, 30 Maret 2014

CERITA ABSURD DUNIA KAMPUS (Bagian 3)

Ceritanya besok pagi itu ada ujian Ekonomi Marko, dosen pengampunya  Bapak Khoirul Imam, kami biasa menyapanya Pak Imam. Namun blunder, malam ini saya lebih betah begadang menyaksikan laga Man United (the raid devils) VS Olympiakos ketimbang murajaah materi yang akan diujikan esok.

**Skip .. Karena begadang, tak pelak paginya saya pun masbuk masuk ujian (berhubung ini kelasnya Pak Imam maka istilahnya bukan telat), Pak Imam ini kelasnya disebut kelas syariah, kalau masbuk itu tidak langsung duduk di kursi tapi tepuk pundak Pak Imamnya dulu :D

Saya mendapat kursi paling depan, berhadapan pas dengan pengawas ujian. Entah kenapa budaya posisi duduk saat ujian, ibarat shof putri  berjamaah di Mesjid, yang belakang diisi lebih dulu :D

Waktu ujiannya 90 menit, udah kayak bola aja (2 kali 45 menit) , saat saya baru mengerjakan satu soal, eh udah injury time aja (maklum masbuk) , tambahan waktunya 4 menit. Kan bigung tuh, masih sisa 4 soal lagi, dan saya mengalami buntu total. Last but not least, saya punya siasat, dengan cara nge chat BBM ke Robin van Persie, biar doi datang untuk memecah kebuntuan ini ,hahaha :D

Terima Kasih, semoga bahagia dalam perjalanan saudara :)
Senin, 31 Maret 2014

Kamis, 20 Maret 2014

Pertumbuhan Penduduk, Masalah atau Anugerah ?

 Banyak yang beranggapan bahwa tingginya pertumbuhan penduduk dalam suatu negara akan menjadi masalah bagi negara itu sendiri. Asumsi seperti ini hanyalah trik dan pelemparan isu palsu yang dilancarkan oleh negara – negara maju terhadap negara berkembang, tujuannya agar negara berkembang terpuruk lalu jatuh miskin. Hal ini cukup beralasan, karena melimpahnya sumber daya manusia sebuah negara, akan berbuah anugerah yaitu hidup dan tumbuhnya perekonomian. Didalamnya ada yang bertindak sebagai produsen, konsumen dan pasar, saling berkesinambungan satu sama lain.  Dengan catatan pemerintah mampu mengelola masyarakatnya agar memiliki kompetensi untuk memanfaatkan sumber daya alam yang mereka miliki, sehingga tidak menjadi penonton di  rumah sendiri. 

Sejatinya pertumbuhan penduduk tidak dapat diklaim sebagai sebuah masalah suatu negara. Yang menjadi pokok permasalahannya kembali kepada negara itu sendiri. Berikut, empat masalah yang menjadikan isu pertumbuhan penduduk seakan – akan sebuah bencana bangsa :


1.       Negara tersebut terbelakang dalam sektor ekonomi dan pendidikan.
2.       Penyusutan sumber daya alam dan kerusakan alam.
3.       Penyebaran penduduk yang tidak merata.
4.       Rendahnya posisi dan status wanita.

                                                                                                                                             



 




Minggu, 16 Maret 2014

Yakinkah, Kampus Sebagai Pencetak Koruptor ?

Menurut Conny R. Semiawan (1998:33) perguruan tinggi  berfungsi untuk mempersiapkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki perilaku, nilai dan norma sesuai sistem yang berlaku sehingga mewujudkan totalitas manusia yang utuh dan mandiri sesuai tata cara hidup bangsa.

Pernyataan diatas justru berbanding terbalik, jika kita menengok fenomena kasus korupsi di Indonesia hingga saat ini, mayoritas para koruptor yang menjadi pasien KPK adalah kaum intelektual, berpredikat Profesor maupun Doktor.  Artinya, ada sesuatu yang salah dari perguruan tinggi dalam proses pembentukan hingga meluluskan para akademisinya. Maka, timbullah pertanyaan, yakinkah Universitas sebagai pencetak koruptor ?

Ada beberapa alasan  yang ditengarai menjadi faktor Universitas sebagai institusi pencetak koruptor.

Pertama,  budaya uang pelicin, dalam hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak Universitas yang menerima mahasiswa lewat jalur uang pelicin, tanpa pandang kualitas calon mahasiswa tersebut. Disini memang yang melakukan korupsi adalah calon mahasiswa baru , tapi secara langsung Universitas telah berperan dan menjadi fasilitator praktek menyogok tersebut, inilah benih awal koruptor yang kemudian akan tumbuh saat si mahasiswa terjun dalam dunia kerja,  jika upah yang ia dapatkan tidak sebanding dengan uang pelicin dan modal   yang di keluarkan selama berkuliah, maka timbulah hasrat untuk melakukan korupsi. Praktek ini mirip dengan para anggota lembaga legislatif yang korup, pada saat  berkampanye begitu jor-joran dana kampanye dan ber money politic, sehingga saat terpilih, orientasi etos kerja mereka hanya untuk kembali modal, hingga berujung pada tindakan korupsi.

Kedua, apabila Universitas menekankan biaya tinggi dalam pelaksanaan perkuliahan , namun tanpa disertai mutu pendidikan dalam arti yang sebenarnya, sangat mudah mendorong terhadap perilaku konsumstif dan hedonis.  Contoh perilaku ini misalnya, ditandai oleh persaingan duniawi, sehingga mendorong mahasiswa lebih bersikap menonjolkan materi daripada kualitas pribadi, dari situ akan melahirkan perbuatan ketidakjujuran juga berlebih - lebihan .

Ketiga,  ketika dosen mengajar mata kuliah, melenceng dari silabus dan metodologi pembelajarannya. Arah proses perkuliahan tidak sesuai dengan perjanjian awal, alhasil akan berdampak sistemik, mulai dari tumpang tindih dan menumpuknya tugas maupun ujian dengan mata kuliah lainnya, disini berpotensi menumbuhkan perilaku copy paste atau plagiat oleh mahasiswa, inilah salah satu kelakuan yang menjadi embrio korupsi.  Kemudian di dalamnya terjadi korupsi waktu, lantaran dosen akan mengurangi atau melebihkan jangka waktu kuliah untuk mengejar target silabus . Secara psikologi Mahasiswa akan terbiasa dengan situasi seperti ini dan bukan tidak mungkin mereka akan terinspirasi mengamalkannya kelak saat berprofesi .

Dari ketiga faktor tersebut, dapat kita tarik benang merahnya agar kampus tidak menjadi lembaga pendidikan penyetor  tikus- tikus berdasi tiap tahunnya dan mengembalikan hakikat dari tujuan Universitas itu sendiri. Karena dewasa ini universitas – universitas orientasinya hanya meningkatkan tingkat intelektual dan keterampilan saja. Belum sepenuhnya mampu menciptakan lulusan – lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional yang sama baiknya, begitu juga mereka yang memiliki etika dan moral yang kuat. 

Sebab dalam kasus – kasus korupsi , sesungguhnya para pelakunya tak hanya mengkorupsi uang, tetapi lebih dari itu ia telah melakukan korupsi moral. Mengapa ? karena ia telah melakukan destruksi dan kontaminasi atas keluhuran nilai – nilai moral dan hati nurani yang diwariskan yang luhur budi. Menurut H. Zainal Arifin Thoha, S.Ag, korupsi moral ini jauh berbahaya ketimbang korupsi uang. Kata orang uang masih bisa dicari, tetapi kemana lagi kita harus mencari nilai – nilai moral dan hati nurati ? .

Dalam rangka mendukung pencapian tujuan tersebut, maka diperlukan sebuah lingkungan kampus yang benar-benar kondusif, dimana nilai-nilai religi mewarnai seluruh aspek kehidupan kampus, tak sekedar nama dan tagline nya saja yang berlabel agama. Sehingga terciptanya iklim spritual di dalamnya, hal ini harus menjadi urusan seluruh civitas akademika, bukan hanya urusan pribadi masing - masing . Kemudian Stakeholder universitas selayaknya bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Keteladanan seorang dosen juga sangat diperlukan dalam menguatkan etika dan moral akademisi. Dosen tidak hanya memberi materi kuliah, namun menginspirasi dalam perangai dan pola hidup mereka .

CATATAN RUJUKAN :                                                                                              
H. Zainal Arifin Thoha, S.Ag (dkk) , Korupsi Dalam Perspektif Agama – Agama, LPPI UMY, Ykt .
*Tulisan saya yang ini juga bisa dibaca di Koran LPPM Nuansa UMY edisi Maret 2014