Rabu, 27 Mei 2015
Selasa, 30 Desember 2014
Indonesia Dalam Tawa
Bagaimana kabar kalian ?, para pecandu canda . Kalo kita
ngomongin Indonesia, biasa membahas yang namanya nasionalisme. Saya ini orang
Indonesia Timur, banyak yang bilang kalo kita ini tidak nasionalis. Yap tepat,
karena kita makanan pokoknya sagu, kita ini “Saguonalisme” haha, hidup
diversifikasi pangan, tolak sentralisasi !!
Ada pula yang sering meledek kalo
orang timur itu mukanya tua-tua, saya salah satu korbannya. Kalo saya sih selo
aja menanggapi, ini hanya persoalan pembagian wilayah waktu saja antara WIT,
WITA dan WIB. Jadi ya misal saya dan teman saya yang dari Jawa tanggal lahirnya
sama. Tetap saja saya yang kakak, karena saya WIT, muka saya lebih tua 2 Jam. :D
Kadang pun saya merespon dengan
sebuah petuah bijak yang bunyinya seperti ini, “Meski bermuka tua, asalkan
tidak bermuka dua. Kan repot kalo bermuka dua, misal saat facial (perawatan wajah), diakhir saya bakal bayar double.
Bagi saya, sosok nasionalis
adalah para pahlawan di era penjajahan silam, mereka merebut kemerdekaan bangsa
tidak semudah bak membalik kedua telapak tangan, pun tak se ajaib seperti sulapan “sim
salabim, jadi apa semuanya ? prok..prok..prok. Eits salah, harusnya jadi apa ..
PROKLAMASI, haha maaf sedikit memaksa.
Dari fakta diatas, sejarah
mencatat bahwa orang pertama yang menemukan istilah “Prok” adalah Bung Karno
bukan Pak Tarno. Asedap asek gesrek.
Cuap-cuap soal proklamasi, ada
satu hal mengganjal pikiran saya, yaitu foto saat pembacaan teks proklamasi
oleh Bung Karno. Menurut saya itu terlalu tegang dan formal sekali, fotonya pun
hanya satu itu saja. Mungkin karena saat itu medio 45, penuh keterbatasan.
Bayangkan saja jika masa itu sedang demam foto selfie, pastinya Soekarno membacakannya
sambil selfie, pun dengan tomsis (tombak narsis) di tangannya, ini bermaksud
untuk menyiasati bila ada penyusup Jepang datang, langsung ditombak terus
diajak selfie. Heuheu.
69 tahun sudah Indonesia merdeka,
sungguh angka yang menarik. Namun masih banyak sisi yang bagi saya belum
sepenuhnya merdeka. Salah satunya sepakbola Indonesia. Itu terlihat dari
fenomena transfer pemain Liga Indonesia. Kalo tengok di Eropa, tiap pemain saat
konfrensi pers tentang kepindahannya ke klub baru, biasanya berujar klise
seperti ini, “bergabung bersama
Manchester United adalah impian masa kecil saya yang akhirnya terwujudkan”,
ya pokoknya gitulah. Tapi kalau di Indonesia itu lain, omongannya seperti ini, “ Saya bangga bergabung bersama Persiwa
Wates, karena dapat meningkatkan jiwa enterpreneur saya. Jika gaji saya telat
dibayar, saya akan berjualan es oyen”. ;D
Indonesia dijuluki sebagai “Ibu
Pertiwi”, karena keindahan alamnya, saya punya sebuah ungkapan untuk
menggambarkannya, yakni “Surga di bawah
telapak kaki Ibu Pertiwi”. Tapi kini Ibu pertiwi sudah berubah, yang katanya
Indonesia itu tanah airku, sekarang apa saja semuanya serba berbayar. Saya
kecewa lalu menggantinya dengan “Surga di
bawah telapak kaki Ibu Kosan Pertiwi”. #TaraJelas (31 Desember 2014)
Sekian, salam ciamik asik.
Minggu, 21 Desember 2014
Kelas Melamun edisi Berbeda Itu Biasa | @ketjilbergerak
(Jumat, 19
Desember 2014) Ketjilbergerak sukses
mengadakan kelas melamun, berlokasi di Plasa Ngasem Jogja, hasil kolaborasi
dengan panitia even Delayota Art 2014 gaweannya anak-anak SMA 8 Jogja, jadi
kelas melamun ini bagian rangkaian acara
dari even yang berlangsung tanggal 17 hingga 20 Desember 2014.
Mula-mula saya mau kenalin ke kalian yang belum tau apa
itu ketjilbergerak dan kelas melamunnya. Menurut hasil stalk saya di situs
mereka, ketjilbergerak adalah komunitas anak muda yang berkomitmen pada
kerja-kerja budaya yang bersifat kolaboratif. Untuk maksud dari namanya, sangat
sederhana saja, lebih baik kecil asal bergerak daripada besar tapi lumpuh.
Sedangkan kelas melamun, dari obrolan mini saya dengan
seorang kru ketjilbergerak, baginya kelas melamun adalah alternatif di saat
acara-acara seminar, workshop maupun diskusi terkesan membosankan. Kelas ini
hampir mirip dengan talk show, kekuatannya ada pada konsep yang asik, pemilihan
pembicara yang pas dengan anak muda, dan lokasinya yang santai. Itu sudah
terlihat dari namanya saja, sangat nyentrik juga hipster bukan ?. Lalu kenapa harus
kelas melamun ?, nah ini yang membuat banyak orang bertanya, termasuk saya. Banyak yang beranggapan saat
mengikuti kelas ini, kita bakal mendengar pembicara sambil melamun haha. Ya itu
bisa saja terjadi, kalau memang saudara itu jomblowan durasi sewindu, yang
memimpikan berpacar Raisa. Oke kembali ke jalan lurus, niat mulianya si ketjilbergerak
sih biar beda trus orang pada kepo, lalu melamun kemudian terhalusinasi hingga
akhirnya berada pada deretan peserta sidang kelas melamun yang dirahmati oleh
Tuhan YME.
Perlu diketahui bahwa kata melamun sendiri memiliki
banyak artian, yang sudah umum itu melamun (daydreaming),
dimana seseorang diam termenung dalam khayalan visual. Adapun yang dipakai oleh ketjilbergerak yakni
melamun dalam artian menumpuk. So,
kelas melamun adalah kelas untuk menumpuk pengetahuan, wawasan, pengalaman dan
kawan baru. Kesan pertama kali mengikuti kelas ini, menurut saya ini cerminan
kegiatan anak muda yang tak hanya menang di seremonialnya saja, pun esensi juga
bisa didulang.
Kelas melamun kini sudah memasuki edisi ke 12, kali ini
mengusung tema “Berbeda itu biasa”, acara dimulai pukul 4 sore, para peserta
diberikan stiker ketjilbergerak dan Majalah Rolling Stone berkover Jogja
Hip-Hop Foundation dan ini special collectors edition, saya pun merasa sebagai
golongan kaum beruntung saat itu. Diisi oleh dua pembicara lintas generasi asal
Jogja, Rama Sindhunata dan Marzuki “Kill the DJ” Mohamad, ditemani oleh MC
kocak Alit-Alit Jabang Bayi. Rama Sindhunata mewakili kubu tua, beliau sendiri
adalah mantan wartawan dan kolomnis harian Kompas, juga seorang penyair, namun
lebih dikenal sebagai novelis, novelnya yang terkenal adalah "Anak Bajang Menggiring Angin"
(1983,
Gramedia). Saat ini beliau lebih intens sebagai Imam Katolik.
Sedangkan Juki “Kill the DJ”, saya pikir anak muda Jogja
sudah banyak mengenalnya, karena ia salah satu pentolan band hip-hop, Jogja
Hip-hop foundation. Baik Rama Sindhu
maupun Juki “Kill the DJ” keduanya telah saling kenal meskipun berbeda generasi,
hubungan mereka bisa dikatakan sebuah persahabatan. Awalnya karena Zuki “Kill
the DJ” saat belia sangat mengagumi Rama Sindhu sebagai kolomnis bola di
Kompas, lalu mulai menyukai puisi-puisi karya beliau. Terang saja bukti hubungan
mereka, terlihat saat beberapa puisi Rama Sindhu disulap menjadi tembang oleh
Jogja Hip-Hop Foundation, contohnya Ora Cucul Ora Ngebul", "Rep
Kedhep", "Ngelmu Pring"
(oleh Rotra) dan "Cintamu
Sepahit Topi Miring" (oleh Jahanam).
Berbicara tentang berbeda itu biasa, menurut Rama
Sindhunata sebuah perbedaan itu akan lebur ketika berada dalam zona
persahabatan, jadi tidak perlu lagi membahas bhineka maupun pluralisme. Ketika
sudah terikat tali persahabatan, tak usah lagi menyatakan perbedaan.
Aristoteles pernah berujar bahwa persahabatan ialah satu jiwa dalam 2 jasad.
Beliau juga melihat fenomena perbedaan di Indonesia, yang beliau khawatirkan
ialah politik bisa merubah perbedaan yang biasa menjadi tak biasa. Itu bisa
dilihat ketika Pemilu 2014 lalu, yang disinggung kebanyakan masalah agama, lantas
berpotensi memecah belah bangsa. Ini tampak lucu, sebab jika isu agama selalu
dipersoalkan, tentunya Indoesia tidak akan merdeka pada 1945 silam, kalaupun
merdeka pasti sudah hancur setelahnya.
Berbeda dengan Rama Sindhu, Juki “kill the DJ” lebih
menyoroti perbedaan pada anak muda. Kaum muda dewasa ini memiliki hobi dan
passion yang beragam, lalu dibentuk komunitas untuk mewadahi tiap-tiap
kegemaran mereka, diantaranya ada Komunitas Puisi, Hip-hop, stand up comedy dan
masih banyak lagi. Dalam realitanya para komunitas ini sering mengadakan even,
pesertanya dari mereka, penontonnya juga, yang menikmati dan tepuk tangan pun
mereka, ini ibarat onani massal. Seharusnya tiap komunitas yang berbeda tadi
berkumpul dan mengadakan satu even bersama untuk mengekspresikan jiwa mudanya,
karena bahasa ekspresi adalah jembatan pemersatu perbedaan. Dari situ juga,
para komunitas akan lebih open mind, berjiwa besar, memperkaya lahir, batin dan
jiwa. Bagi Juki “kill the dj” juga,
perbedaan itu untuk saling mengenal. Kini masyarakat terlalu sibuk dengan
urusan mereka masing-masing, sehingga minim waktu untuk bersosialisasi, namun
sudah bejibun hadir media dan jejaring sosial untuk memudahkan komunikasi dalam
memaknai perbedaan.
Selain membahas berbeda itu biasa, Juki juga sedikit
menceritakan perjalanan awal terbentuknya Jogja Hip-hop foundation hingga mampu
go international dan bisa survive sampai sekarang. Hal ini karena
bangsa Indonesia sejak nenek moyang kita, memiliki semangat tidak menerima
mentah-mentah apa yang muncul ke permukaan. Misal sekarang kita bagian dari
masyarakat global, hip-hop itu produk global asalnya dari AS, walaupun begitu
Jogja Hip-Hop Foundation mengisi hip-hop dengan akar kebudayaan Indonesia.
Sekitar 1 jam berlangsung, wahana kelas melamun diguyur hujan deras,
kebetulan saat itu hanya beratapkan tenda mantenan, alhasil dialognya di pending sementara waktu. Sebagai
gantinya diisi hiburan dari grup hip-hop
TG Crew dari kampung Tegal Gendu, grup ini kumpulan anak-anak sepantaran
personil Coboy Junior. Membawakan lagu cintamu sepahit topi miring milik JHF.
Selang berapa lama, hujan pun mulai mereda, acara di
lanjutkan pada sesi tanya jawab yang kemudian diakhiri dengan closing statement dari kedua pembicara.
Rama Sindhunata berujar tetap jaga ikatan persahabatan agar mampu menghargai
perbedaan dan jadilah manusia yang makin global lantas makin lokal. Dari Juki “kill
the dj”, ia berasumsi bahwa ketika kita menyalahkan sesuatu, misal pasar
mainstream musik Indonesia, tentu kita harus bertanggung jawab dengan memberi penetrasi
dan alternatif yang lebih menarik. Sekian, tetap anggap berbeda itu biasa, dan sampai
jumpa di kelas melamun part
selanjutnya .
Senin, 10 November 2014
SELAMAT HARI PAHLAWAN 2014
Aku bukan pahlawan berparas tampan
Itulah potongan bait tembang
Dari trio supir truk asal Bali
Yang saya sebut cerminan pahlawan Indonesia hari ini
Ada pahlawan tanpa tanda jasa
Kini dunianya sering muncul asusila
Ada juga pahlawan devisa
Inilah pahlawan dengan tanda siksa
Ada pula pahlawan kesiangan
Mungkin ini bapak Presiden baru kita
Diciptakan oleh citra dan media
Kalau saya ini .
Pahlawan yang bangun kesiangan
Inilah akar kemunduran bangsa
Sebab rezeki negeri ini
Telah dipatok oleh ayam milik paman Sam
Bangsa besar ialah bangsa yg tak melupakan jasa para pahlawannya
Ini isyarat bahwa kita tak hanya harus mencintai produk dalam negeri
Pun cinta dan bangga akan pahlawan bangsa
Lebih besar dari mengidolai superhero mancanegara
Bung Karno berkata Jas Merah
Jangan sampai melupakan sejarah
Jas melambangkan kebijaksanaan
Merah berarti berani
Mari tatap arah masa depan bangsa
Dengan gagah, berani dan bijaksana
Itulah potongan bait tembang
Dari trio supir truk asal Bali
Yang saya sebut cerminan pahlawan Indonesia hari ini
Ada pahlawan tanpa tanda jasa
Kini dunianya sering muncul asusila
Ada juga pahlawan devisa
Inilah pahlawan dengan tanda siksa
Ada pula pahlawan kesiangan
Mungkin ini bapak Presiden baru kita
Diciptakan oleh citra dan media
Kalau saya ini .
Pahlawan yang bangun kesiangan
Inilah akar kemunduran bangsa
Sebab rezeki negeri ini
Telah dipatok oleh ayam milik paman Sam
Bangsa besar ialah bangsa yg tak melupakan jasa para pahlawannya
Ini isyarat bahwa kita tak hanya harus mencintai produk dalam negeri
Pun cinta dan bangga akan pahlawan bangsa
Lebih besar dari mengidolai superhero mancanegara
Bung Karno berkata Jas Merah
Jangan sampai melupakan sejarah
Jas melambangkan kebijaksanaan
Merah berarti berani
Mari tatap arah masa depan bangsa
Dengan gagah, berani dan bijaksana
10 November 2014
Selasa, 28 Oktober 2014
(Bukan) Pemuda Harapan Palsu
Sejarah besar
bangsa Indonesia tentu tidak terlepas dari kontribusi para pemuda negeri ini,
tengok saja kembali ke 86 tahun lalu pada 27-28 Oktober 1928, terjadinya sebuah
gerakan besar yang di galakkan oleh para
pemuda, baik dari Indonesia barat maupun timur untuk mengikrarkan pengakuan
bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, yang
hingga kini tiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Dapat
memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda dan pentingnya nasionalisme juga demokrasi adalah
output yang diharapkan bisa dituai dari gerakan ini. Terang saja, peristiwa ini
seakaan menjadi tonggak awal peranan kaum muda dalam tinta sejarah bumi
pertiwi, terlihat pada momen-momen besar macam kemerdekaan tahun 1945, medioorde lama 1966 dan saat
pengkudetaan rezim Soeharto pada tahun 1998.
Sebegitu besar
goresan perjuangan yang ditorehkan para
pemuda-pemuda sebelum kita, tentu sebesar itulah harapan kepada kaum muda
sekarang. Hari sumpah pemuda seharusnya menjadi momentum untuk merajut dan
menguatkan lagi persatuan untuk menjadi manusia Indonesia. Di saat akrobat zaman
yang makin menjadi-jadi, tentu ini menjadi keuntungan jika kita mampu mengolahnya dengan positif. Para pendahulu
kita dengan segala keterbatasan era
mereka saja, bisa melakukan gerakan besar persatuan bangsa. Kaum muda kini
dengan jamuan segala macam jenis gadget juga
bejibunnya jejaring sosial didalamnya, sangat besar sekali mampu melanjutkan
estafet gerakan tersebut. Dimana kita dimudahkan untuk terhubung dan
berinteraksi dengan kaum muda di seluruh penjuru negeri, saling bertukar
gagasan, membicarakan persoalan bangsa, mengkritik kebijakan pemerintah, dan
hal positif progresif lainnya. Lain halnya jika digunakan semena-mena, seperti
halnya fenomena si Florence di Jogja beberapa waktu lalu, telah melukai
persatuan bangsa. Jadikan saja sebuah pelajaran pendewasaan kaum muda kemajuan
era informatika.
Sebagai kaum muda yang hidup di era yang begitu pesat munculnya
kosakata dan istilah baru, yang menggurita lalu beranak- pinak menjejali
pikiran, hingga tak tau arah jalan pulang. Di saat serangan membabi buta westernisasi, budaya K-Pop dan yang
terbaru rombongan drama Mahabarata menyasar para anak muda, seakan menjadi
kontestasi atau pertarungan budaya asing dan lokal. Disinilah jiwa nasionalisme
kaum muda harus ditinggikan untuk menangkal fenomena tersebut. Banyak hal yang
bisa dilakukan, yaitu mencintai budaya Indonesia dengan menjadi pelaku maupun
penikmatnya. Perlu diketahui bahwa bangsa ini memiliki banyak sekali
kebudayaan, inilah macamnya, rumah adat, tarian, lagu, musik, seni gambar, seni
patung, pakaian adat, seni suara, seni sastra, makanan dan film.
Di samping itu juga
harus mencintai produk-produk dalam negeri, terlebih pada tahun 2015 dengan
adanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), harus memacu semangat kaum muda untuk
menjadi produsen maupun konsumen dalam negeri yang berkualitas, salah satunya
dengan mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya Indonesia. Sejak dini kita
siapkan intelektualitas,
moralitas, soft skill dan
religiusitas agar tak tergerus zaman, jangan hanya di nina bobokan oleh zat
aditif media sosial yang sifatnya semu. Karena pada hakikatnya kitalah kaum
muda pelangsung dan penyempurna arah gerak bangsa, bukan pemuda/pemudi harapan
palsu, yang hanya menjadi pemberi harapan palsu.
28 Oktober 2014
Jumat, 10 Oktober 2014
Sajak Indonesia Hari Ini
Telah muncul si kurus
Yang katanya Sang Satria Piningit
Serangan prematur menerjang tajam
Menguliti secara telak
Pra disahkan si kurus ini
Drama gonjang-ganjing dua haluan
Layaknya taman kanak-kanak
Alam pun tak ketinggalan memberi tugas rumah
Dimana tingkat ekspor bangsa kita meningkat
Ya, mengekspor asap ke negeri jiran
Ah, kurang ajar memang !
Lagil-lagi langkah berkedok pertumbuhan ekonomi
Mereka pikir tanah warisan pribadinya
Tentu tuk seluruh generasi cucu-cucu ibu pertiwi
Pangeran silam begitu licik
Mengerdilkan para wong cilik
Membunuh curahan-curahan irigasi
Mengalih fungsi lahan
Menawan dan tewaskan perlahan
Berkisah lanjut masih tentang lahan
Ya, kehidupan di lahan hijau bola kaki
Timnas menjadi komoditas
Budak segala macam media
Jogjakarta, 10 Oktober 2014
Kamis, 04 September 2014
Muhammadiyah Sebuah Gerakan Dakwah Modern
Mungkin saudara sudah pernah menonton film berjudul Sang Pencerah, baik di layar lebar maupun layar kaca. Sebuah film yang menceritakan kisah hidup seorang pahlawan nasional bernama KH Ahmad Dahlan pada masa sebelum kemerdekaan, dengan perjuangannya mendirikan sebuah organisasi Islam bernama Muhammadiyah. Beliau mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah di kampung santri Kauman Yogyakarta pada tahun 18 November 1912 (8 Djuzlhijjah 1330H) yang memiliki tujuan menegakan dan menjunjung tinggi ajaran agama islam, sehingga terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya. Secara pribadi latar belakang lahirnya Muhammadiyah yakni hasil pendalaman K.H. Ahmad Dahlan terhadap Al Quran, dan surat Ali Imran ayat 104 lah yang telah menggerakan dan menginspirasi beliau. Adapun secara umum faktornya yaitu ketidakbersihan dan campur aduknya kehidupan agama Islam di Indonesia, ketidak effisiennya lembaga-lembaga pendidikan agama Islam dan aktifitas misi-misi non muslim.
Muhammadiyah memiliki tiga ciri
perjuangan yaitu sebagai gerakan Islam, sebagai gerakan dakwah Islam dan
gerakan tajdid (reformasi). Khusus untuk ciri yang ke dua, sebagai Gerakan
Dakwah Islam, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar (menyeru kepada kebajikan dan mencegah
kepada kemungkaran). Bagi KH Ahmad
Dahlan, berdakwah tak melulu tentang membuat pengajian atau memberi ceramah di
mesjid, tetapi lebih dari itu. Dakwahnya Muhammadiyah itu menjadikan masyarakat
sebagai medan atau kancah perjuangannya.
Muhammadiyah hadir di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan
membangun berbagai amal usaha yang betul-betul dapat menyentuh hidup orang
banyak, semisal berbagai macam lembaga pendidikan dari sejak kanak-kanak hingga perguruan tinggi, membangun sekian banyak rumah akit , panti-panti asuhan, dan
sebagainya. Untuk lembaga pendidikan sendiri, tercatat Muhammadiyah telah
memiliki amal usaha yang berjumlah hingga ribuan unit, semuanya telah dibangun
dan tersebar diseluruh pesok negeri ini dari Sabang sampai Merauke. Tentunya
semua amal usaha ini sebagai sarana dan wahana dakwah islamiyah yang tetap
berpegang teguh pada asas Muhammadiyah yaitu Al Quran dan As Sunnah Shahihah.
Muhammadiyah kini telah berusia 1
abad lebih 3 tahun dalam penanggalan masehi, tentu bisa dikatakan sungguh awet
untuk salah satu organisasi terbesar di dunia . Sudah banyak sekali sumbangan
dari Muhammadiyah untuk bangsa ini, misal dalam bidang pendidikan yaitu upaya
untuk mencerdaskan umat. Salah satu langkah reformasi yang fenomenal dilakukan
oleh KH Ahmad Dahlan ialah dalam merintis pendidikan ”modern” yang memadukan
pelajaran agama dan umum, juga mengadopsi cara dan sistem pengelolaan
pembelajaran ala Belanda pada masa penjajahan. Langkah ini terekam dalam salah
satu scene film Sang Pencerah.
Saya sendiri lahir dari keluarga
Muhammadiyah, orang tua saya masing-masing pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah di
wilayah Maluku Utara. Tercatat saya besar dalam edukasi pendidikan
Muhammadiyah, dimulai dari berseragam MTS Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta
lalu berlanjut ke jenjang berikutnya di tempat yang sama di MA Muallimin
Muhammadiyah Yogyakarta, setelah 6 tahun menuntut ilmu di almamater tersebut
dan lulus pada tahun 2012, saya lalu meneruskan studi kuliah di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengambil jurusan Ilmu Ekonomi, prodi Ekonomi
Keuangan Perbankan Islam hingga saat ini. Tentunya ada kebanggaan tersendiri
bisa menjadi bagian dari sebuah organisasi islam yang berpengaruh dalam sejarah
bangsa Indonesia, namun harus selalu diingat dua pesan KH Ahmad Dahlan yang kini
mulai sedikit terlupakan oleh warga Muhammadiyah, yakni "Muhammadiyah sekarang
berbeda dengan Muhammadiyah kemarin, jadilah dokter, insinyur, guru, dosen dsb,
lalu kembalilah ke Muhammadiyah". Dan "hidup-hidupilah Muhammadiyah jangan
mencari hidup di Muhammadiyah".
IMMawan Muhammad Fathi Djunaedy
Langganan:
Postingan (Atom)




